Profile

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

mengapa lebih banyak bayi laki laki yang lahir dibanding perempuan?


Di seluruh dunia, jumlah bayi laki-laki yang lahir melebihi bayi perempuan. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi?
Terdapat 107 bayi laki-laki terlahir di seluruh dunia tiap 100 bayi perempuan yang lahir. Perbandingan yang mencurigakan ini sebagian dikarenakan aborsi pemilihan kelamin dan ‘gendercide’ atau pembunuhan bayi perempuan.
Hal tersebut banyak terjadi terutama di negara-negara seperti China dan India karena bayi laki-laki jauh lebih diinginkan. Setelah mengabaikan faktor-faktor tersebut, perbandingan jenis kelamin yang benar-benar alami antara laki-laki dan perempuan berkisar 105:100.

Artinya, para wanita cenderung melahirkan bayi laki-laki. Mengapa? Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah, mana yang pertama membuahi sel telur, apakah sperma yang mengandung kromosom jenis kelamin Y atau yang mengandung kromosom X.
Selain itu ada juga faktor usia orang tua, paparan lingkungan, tekanan, tahap siklus ovulasi sang ibu dan bahkan, apakah sang ibu pernah memiliki anak sebelumnya. Perpaduan semua faktor tersebut menentukan rata-rata perbandingan jenis kelamin saat pembuahan, yakni 105:100.
Banyak demografer memperhitungkan, ketidakseimbangan jenis kelamin saat kelahiran ini diduga disebabkan cara evolusi secara keseluruhan. Bayi laki-laki lebih sering menderita komplikasi kesehatan dibandingkan bayi perempuan.
Kerugian ini terus berlanjut hingga dewasa seiring pria dewasa lebih sering saling membunuh, mengambil risiko lebih besar dan memiliki lebih banyak masalah kesehatan di atas rata-rata wanita yang semuanya menyebabkan pria mati muda. Hal ini tak menyeimbangkan skala jenis kelamin secara tepat namun sebenarnya memang dekat antara keseluruhan populasi manusia, rasio laki-laki dan perempuan mencapai 101:100.

Mengapa perbandingan yang muncul tak impas secara sempurna? Di Amerika Serikat (AS), seluruh Eropa, Australia dan banyak negara maju lainnya yang pada kenyataannya, negara-negara ini memiliki jumlah wanita dewasa lebih sedikit dibanding laki-laki.
Bias kecil pada laki-laki yang tetap dalam rasio jenis kelamin penduduk dunia diduga kuat sebagai hasil faktor-faktor sosial yang telah diisyaratkan sebelumnya, seperti aborsi janin perempuan serta gendercide di Asia Tenggara dan sebagian besar Timur Tengah.
Pria menghasilkan jumlah sperma yang sangat banyak, sementara wanita memiliki jumlah telur yang terbatas. Sejauh evolusi, mengapa manusia tak bisa ‘membuat’ laki-laki lebih sedikit dan perempuan lebih banyak?
Jawaban yang bisa diterima secara luas untuk pertanyaan ini pertama kali dikemukakan ahli biologi evolusi terkenal Sir Ronald Fisher yang bekerja pada hal ini pada paruh pertama abad ke-20.
Prinsip Fisher menyatakan, perbedaan dalam perbandingan jenis kelamin cenderung berkurang dari waktu ke waktu karena keuntungan reproduksi secara otomatis dipegang oleh anggota jenis kelamin yang minoritas.
Misalnya, kelahiran laki-laki jauh kurang umum dibanding kelahiran perempuan. Jika ini terjadi, maka bayi laki-laki yang baru lahir secara alami akan memiliki prospek yang lebih baik untuk kawin dibanding perempuan yang baru lahir.
Selain itu, hal tersebut bisa berakhir pada jumlah keturunan yang lebih banyak. Orang tua yang secara genetik dibuang untuk menghasilkan bayi laki-laki di kemudian hari akan cenderung memiliki cucu lebih banyak.
Selain itu, gen penghasil laki-laki akan menyebar, dan kelahiran laki-laki akan menjadi lebih umum. Secara perlahan, populasi dunia akan mendekati keseimbangan jenis kelamin.

Sabtu, 24 September 2011

penderita Diabetes tiba tiba Terbakar tanpa sebab

Galway, Irlandia, Meninggal karena gagal ginjal atau serangan jantung adalah komplikasi yang sudah lazim pada penderita diabetes. Namun di Irlandia, penderita diabetes meninggal karena sebab yang aneh yakni tubuhnya mendadak terbakar secara misterius.

Michael Faherty, laki-laki 76 tahun asal Galway, Irlandia baru-baru ini ditemukan tak bernyawa di rumahnya sendiri. Kakek penderita diabetes tipe 2 ini diketahui memang memiliki komplikasi tekanan darah tinggi, namun dipastikan tidak meninggal karena serangan jantung.

Dilihat dari kondisinya yang hangus dan nyaris menjadi abu, dipastikan Faherty meninggal karena terbakar. Anehnya, petugas forensik tidak menemukan tanda-tanda bekas minyak tanah atau bahan bakar lain sehingga dugaan bunuh diri dapat diabaikan.

Keanehan lain yang dijumpai petugas forensik adalah, tidak ada kerusakan pada benda lain di rumah Faherty. Selain tubuhnya yang hangus nyaris menjadi abu, hanya lantai dan langit-langit di sekitar lokasi jasadnya ditemukan saja yang tampak agak gosong.

Kepala tim forensik yang memeriksa kasus ini, Dr Kieran McLoughlin memastikan Faherty meninggal akibat kondisi medis yang disebut Spontaneous Human Combustion (SHC). Kondisi yang diperkirakan baru pertama kali ditemukan di Irlandia ini menyebabkan tubuh seseorang terbakar tiba-tiba.

"Peristiwa ini sudah diselidiki secara menyeluruh dan saya simpulkan ini adalah SHC, sebuah fenomena yang hingga kini belum bisa dijelaskan dengan cukup memadai," ungkap Dr McLoughlin seperti dikutip dari The Irish Independent.

Api yang muncul pada SHC muncul secara spontan akibat reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh, tanpa melibatkan panas eksternal dari lingkungan. Sama halnya dengan kasus Faherty, tim forensik juga tidak menemukan benda-benda yang sekiranya bisa menyulut api misalnya korek maupun peralatan listrik.

Meski sebenarnya sangat langka, kasus SHC tercatat sudah terjadi ratusan kali di seluruh dunia dalam 300 tahun terakhir. Hanya saja tidak semuanya benar-benar diteliti oleh para ahli, sehingga ada juga yang hanya berupa cerita-cerita yang dilebih-lebihkan.
 terdapat beberapa fakta yang terkait dengan kasus SHC yakni:


  1. Sebanyak 80 persen korban SHC adalah kaum perempuan.
  2. Kebanyakan korban mengalami kelebihan berat badan atau pecandu alkohol.
  3. Tubuh korban akan sangat hangus, tapi ruangan di sekitar mayat korban masih cukup utuh.
  4. Tubuh korban akan menguning dan biasaya di sekitar korban timbul bau minyak busuk.
  5. Batang tubuh termasuk dada, perut dan pinggul bisa benar-benar terbakar, tapi bagian dari kaki atau pakaian bisa jadi masih utuh.
  6. Pembakaran hanya terjadi pada korban sendiri tanpa adanya teriakan atau jeritan yang pernah terdengar.
  7. Biasanya korban banyak minum sebelum meninggal.

Sedangkan beberapa kasus SHC yang pernah tercatat dalam sejarah antara lain sebagai berikut:

Oktober 1938
Maybelle Andrews dan pacarnya sedang menari di klub malam, lalu tiba-tiba ada api yang menyembur dari punggung, dada dan bahu Maybelle. Pada saat itu tidak ada api lain di ruangan hanya ada di badan Maybelle. Maybelle meninggal akibat luka-lukanya saat dalam perjalanan ke rumah sakit.

31 Januari 1959
Jack Larber, pasien berusia 72 tahun tiba-tiba terbakar setelah beberapa menit diberi makan. Petugas berusaha memadamkan api tapi Larber sudah meninggal akibat luka bakar stadium 3. Tidak ada penjelasan mengenai asalnya api tapi diketahui bahwa Larber adalah seorang perokok.

Desember 1959
Billy Peterson ditemukan tewas di kursi depan mobilnya. Awalnya ia diduga mencoba bunuh diri akibat keracunan karbonmonoksida, tapi tubuhnya terbakar di daerah punggung, kaki dan tangan. Dagingnya tubuhnya terbakar tapi pakaian atau kursi depan tidak ada yang rusak.

Desember 1966
Dr J Irving Bentley (92 tahun) ditemukan meninggal di lantai kamar mandi dengan hampir 90 persen tubuhnya terbakar kecuali kaki kanan dan sepatunya. Saat ditemukan tercium bau aneh dan adap biru muda. Rumahnya sama sekali tidak mengalami kerusakan.

6 Januari 1980
Polisi dan petugas forensik menemukan tubuh Mans sudah terbakar dan tidak bisa dikenali di ruang tamunya. Kursi tempat duduk serta benda plastik disekitarnya hampir tidak rusak dan ditemukan lapisan daging yang menguap di langit-langit.

Oktober 1980
Seorang perempuan bernama Jenna Winchester meledak dan terbakar saat duduk di dalam mobil di samping temannya. Diakui temannya ia melihat api kuning yang datang dari Jenna. Untungnya Jenna berhasil selamat dengan luka bakar di sekitar 20 persen bagian tubuhnya.

24 Maret 1997
John O'Connor (76 tahun) ditemukan meninggal di ruang tamu dengan posisi hangus terbakar ketika duduk di kursi. Saat ditemui hanya kepala, tubuh bagian atas dan kakinya saja yang tetap tidak terbakar. Selain itu ada kerusakan kecil di furniturnya akibat asap.

hubungan antara diet dan tingkat Kegalauan


Masa muda memang penuh gejolak, sehingga wajar jika remaja sering galau atau stres. Namun kegalauan pada remaja bukan hanya dipengaruhi oleh permasalahan yang dihadapi sehari-hari, sebab kurang makan buah juga bisa mempengaruhinya.

Sebuah penelitian di Deakin University baru-baru ini mengungkap remaja yang rajin makan sayur dan buah-buahan relatif lebih jarang mengalami masalah kejiwaan. Sebaliknya jika sering makan makanan cepat saji dan kurang bergizi, remaja akan rentan mengalami depresi dan kegelisahan.

Fakta ini disimpulkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan para peneliti terhadap 3.000 remaja berusia 11-18 tahun di seluruh Australia. Selama kurun waktu 2 tahun sejak 2005, pola makan para partisipan diamati dan berbagai gangguan kejiwaan yang dialaminya juga dicatat.

Felic Jack, ilmuwan yang memimpin penelitian ini mengatakan ada kaitan erat antara diet atau pola makan dengan tingkat kegalauan. Namun dalam publikasinya di jurnal PLoS One, ia tidak menjelaskan lebih detail bagaimana keduanya bisa saling berkaitan.

Jack hanya menyarankan, remaja perlu mengonsumsi 2 porsi buah dan 5 porsi sayur tiap hari jika ingin terhindar dari stres. Konsumsi gandum atau karbohidrat kompleks lainnya seperti ubi dan kentang juga perlu ditingkatkan, sementara nasi dan makanan cepat saji sebaiknya dikurangi.

Mengonsumsi makanan dengan nutrisi tinggi sangat penting bagi remaja sebab pada masa ini mereka mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dan dinamis. Nutrisi yang cukup akan sangat membantu.
Berbagai masalah kejiwaan seperti depresi dan kegelisahan sangat sering dialami para remaja. Sebuah penelitian bahkan pernah mengungkap, 1 dari 5 remaja di Australia mengalami sedikitnya 1 jenis masalah kejiwaan baik yang dipicu oleh faktor genetika maupun stres atau faktor lingkungan.